Indonesia Butuh Jiwa Nagabonar !

“ Tegak kan badanku! Tegak kan badanku! Aku ingin melihat Merah Putih berkibar di puncaknya! “

Prolog di atas merupakan salah satu adegan dalam film Nagabonar Jadi 2. Pada adegan tersebut terlihat bahwa seorang mantan pencopet pun sangat mendambakan berkibarnya bendera Merah Putih di tempat tertinggi. Terlihat jelas betapa rasa patriotisme yang tinggi begitu melekat pada sosok Nagabonar –tokoh rekaan- yang mantan pencopet.

Renungan

Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada masyarakat Indonesia –yang notebene bukan rekaan- pada saat ini. Warga negara Indonesia masa ini telah melunturkan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pejuang-pejuang bangsa dalam merebut Kemerdekaaan Indonesia. Kita tidak lagi menghargai perjuangan mereka. Bahkan untuk mengingatnyapun kita seakan enggan.

Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir. Soekarno pernah mengatakan “ Jangan Sekali-kali melupakan sejarah! ”, kata-kata tersebut lebih terkenal dengan JAS MERAH. Ya, kita tidak seharusnya melupakan sejarah. Begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh para pejuang kita untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Negara ini dimerdekakan oleh darah dan jiwa para pejuang bangsa bukan hadiah yang diberikan oleh penjajah pada saat itu. Segenap tumpah darah telah dicurahkan untuk pembebasan bangsa ini, tapi mengapa kita melupakan semua itu?. Apakah bangsa ini memerlukan penjajahan kembali untuk membangkitkan jiwa patriotisme?. Apakah kita memerlukan perang lagi agar kita bisa menghargai atau menapaktilasi perjuangan yang telah dilakukan?.

Penurunan Sang Saka

HUT Republik Indonesia ke –62 yang kita rayakan pada 17 Agustus 2007 telah ternoda oleh penurunan sejumlah bendera Merah Putih di beberapa wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Bahkan tidak hanya bendera Merah Putih yang diturunkan teks proklamasi serta lagu Indonesia Raya pun tidak dikumandang lagi di beberapa perkantoran di NAD. Alasan dari pejabat setempat, masih butuh waktu ( Kompas, 14/08 ). Jawaban yang diberikan tersebut tidak rasional bila melihat bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika-an. Masa hanya untuk memberikan penghormatan kepada Sang Saka pada masa ini kita masih memerlukan waktu untuk berpikir. Kita mengenal begitu banyaknya pahlawan yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, mulai dari Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, serta ratusan bahkan ribuan pahlawan yang belum dikenal luas telah berjuang untuk mengusir penjajahan dari bangsa ini. perjuangan mereka telah ditulis oleh tinta emas dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan menjadi inspirasi bagi kalangan muda di setiap penjuru negeri ini. Tapi, mengapa generasi penerus mereka menodai perjuangan tersebut?. Terlihat jelas bila patriotisme kita telah hilang. Bangsa ini akan digiring menuju keterpurukan oleh kita sendiri, bukan oleh bangsa lain. Tangisan mereka akan terdengar bila melihat apa yang telah diperbuat oleh generasi yang mereka bangga-banggakan. Separatisme tidak bisa dihilangkan dari negeri ini, tapi kita bisa meminimalisir hal tersebut dengan mengahrgai apa yang telah diperjuangklan oleh pahlawan-pahlawan kita.

Nagabonar

Kita seharusnya bisa lebih menghargai jasa-jasa para pahlawan kita ketika kita akan menyonsong Hari kemerdekaan Indonesia yang ke-62 seperti yang ditunjukkan oleh tokoh rekaan Nagabonar. Dengan segenap tenaga diusia senjanya Ia melakukan penghormatan untuk mengenang kawan-kawan seperjuangannya. Bangsa Indonesia pada masa ini memang membutuhkan sosok Nagabonar untuk mengembalikan rasa patriotisme kita. Apa kata dunia bila kita melupakan pengorbanan para pahlawan kita!.

ZULKIFLI

Gubenur BEM-MM Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta ;

Fungsionaris Nasional ISMEI ;

Anggota Muda UKM Kesenian Proklamator Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan